Oleh: Lalu Suryadi SP.MM
Kasubbid Pangan dan Pertanian Bappeda NTB
Kemiskinan merupakan permasalahan yang sangat kompleks, karena tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan masyarakat maupun ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga berkaitan ketidakberdayaan dari aspek ekonomi, sosial, budaya dan politik. Begitu juga halnya yang berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan tidak hanya ketidak mempuan memenuhi kebutuhan hidup semata, namun lebih jauh lagi kemiskinan juga dapat mengakibatkan munculnya gejala sosial yang baru pula, seperti pencurian, perampokan, begal, pembunuhan, penculikan, sengketa hak tanah, perebutan harta warisan, dan lain sebagainya. Dalam rangka menghindari berbagai permasalahan tersebut, tidak dipungkiri bahwa Provinsi NTB sudah sangat bekerja keras untuk berupaya menurunkan angka kemiskinan, namun upaya dan kerja keras tersebut tidak sepenuhnya seperti harapan yang di cita-citakan. Jika di rata-ratakan setiap tahunnya Provinsi NTB menggelontorkan anggaran 1,2 – 1,5 Trilyun yang langsung mengarah kepada program-program yang bersentuhan langsung dengan kemiskinan seperti Program JKN, Rumah Layak Huni, Pembangunan Sarana Air Bersih, Bantuan ekonomi produktif dan berbagai program lainnya. Angka anggaran tersebut belum menghitung program dan kegiatan yang tidak terkait langsung dengan penanggulangan kemiskinan tetapi turut berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan, seperti pembangunan jalan tentu tidak terkait langsung dengan kemiskinan tetapi dengan keberadaan jalan yang baik maka akses masyarakat terutama masyarakat miskin ke sarana kesehatan, sarana pendidikan atau ke sarana ekonomi seperti pasar tentu akan lebih baik dan murah sehingga dapat membantu masyarakat miskin untuk bisa mengembangkan usahanya lebih baik.
Besarnya alokasi anggaran dan banyaknya jenis program yang dilaksanakan tersebut belum mampu menurunkan angka kemiskinan secara significant di Provinsi NTB. Hal ini terlihat dari persen angka kemiskinan yang mampu kita capai sampai dengan maret 2019 sebesar 14,56% masih jauh dari angka rata-rata nasional yang sudah mencapai 1 digit yaitu sebesar 9,41%, yang menempatkan NTB pada posisi angka kemiskinan nomor 8 tertinggi setelah Provinsi Bengkulu dan Aceh. Dengan posisi angka kemiskinan tersebut kalau di rata-ratakan penurunan angka kemiskinan yang mampu kita turunkan di NTB dalam 10 tahun terakhir dari kemiskinan sebesar 21,55% tahun 2010 sampai sebesar 14,56% tahun 2019 maka rata-ratanya adalah sebesar 0,699%. Dengan kondisi angka kemiskinan yang sekarang sebesar 14,56% maka jika sejak tahun 2010 kita hanya mampu menurunkan angka kemiskinan rata-rata setiap tahun sebesar 0,699 maka kita baru akan mampu menurunkan angka kemiskinan di Provinsi NTB menjadi 1 digit pada tahun 2026 dengan angka kemiskinan sebesar 9,67%. Itupun kalau setiap pemangku kepentingan yang ada di NTB ini mengerahkan segala sumber daya yang ada, tetapi kalau itu tidak kita lakukan, maka sampai tahuh 2030 pun upaya tersebut masih sangat berat untuk kita lakukan. Karena ancaman penduduk yang berada sedikit di atas garis kemiskinan atau yang biasa kita sebut sebagai penduduk hampir miskin jumlahnya jauh melebihi penduduk miskin, dan penduduk rentan miskin ini sangat cepat masuk ke bawah garis kemiskinan, jika terjadi kenaikan inflasi yang berpengaruh pada kenaikan harga sembako, maka kelompok ini akan jatuh ke bawah garis kemiskinan.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar kita tidak perlu menunggu sampai tahun 2026 untuk mengejar angka kemiskinan turun dibawah 1 digit?. Jawabannya ada pada setiap pelaku pembangunan yang ada di NTB ini, terutama pada setiap penentu kebijakan. Karena ada banyak sekali kelemahan dari berbagai program dan kegiatan yang sudah kita laksanakan yang berpeluang menjadi penghambat dalam mencapai target penurunan angka kemiskinan menjadi 1 digit tersebut diantaranya adalah:
- Belum sepenuhnya setiap pelaku pembangunan yang melaksanakan program penanggulangan kemiskinan menggunakan 1 basis data yaitu Basis Data Terpadu, baik OPD di Provinsi sendiri, Pemerintah Pusat, Kabupaten/Kota, Desa, NGO, BUMN/BUMD dengan CSRnya, swasta, bahkan masyarakat sendiri.
- Belum terintegrasinya program/kegiatan antar sektor, antar tingkatan pemerintahan, maupun antar pelaku pembangunan lainnya. Masing-masing masih melaksanakan program/kegiatannya sendiri-sendiri sehingga pelaksanaannya tidak efisien dan efektif. Bayangkan saja jika seorang penduduk miskin hanya diberikan bantuan rumah layak huni tapi tidak memiliki sarana air bersih atau sarana sanitasi berupa jamban maka tentu tetap saja penduduk miskin tersebut akan masih tetap terhitung sebagai penduduk miskin karena belum memiliki sarana yang layak dan sehat di rumahnya.
- Masih adanya kesalahan diagnose yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan pada suatu wilayah. Kesalahan diagnose ini tentu akan menyebabkan terjadinya kesalahan kebijakan pilihan program/kegiatan yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan pada suatu wilayah. Sebagai contoh kalau di Provinsi NTB karakteristik penduduk miskinnya hampir 50% bekerja di sector pertanian, sudahkah alokasi belanja program dalam APBD mengakomodir permasalahan tersebut?. Kalau belanja APBD sudah mengarah ke sector pertanian lalu sudahkah arah penggunaan dana tersebut di fokuskan lokusnya ke kantong-kantong kemiskinan yang menjadi tempat bermukimnya petani-petani miskin tersebut?
- Besarnya pengaruh factor kebijakan nasional terhadap angka kemiskinan daerah.
- Adanya pemahaman bahwa kemiskinan hanya merupakan permasalahan ekonomi semata.
- Tingginya nuansa politis dalam pengambilan keputusan kebijakan anggaran.
- Semakin terbatasnya daya dukung dan daya tampung lingkungan.
- Lemahnya daya juang dan karakter penduduk miskin untuk keluar dari kemiskinan
- Umumnya masyarakat miskin memiliki karakter yang bersifat pemalu dan susah bicara jika berkumpul dalam satu kelompok dengan masyarakat yg lebih maju, apalagi kalau dalam forum tersebut ada pejabat atau tokoh yang disegani maka sangat susah untuk disuruh bicara menyuarakan aspirasi, harapan dan kebutuhannya dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya.
- Karakter lain yang juga menjadi penghambat dalam upaya mengelurkan penduduk miskin dari kemiskinannya adalah karakter yang pasrah dan merasa cepat puas dengan kondisi yang ada sehingga tidak ada semangat dan gerakan untuk keluar dari kondisi yang ada.
- Penduduk miskin dalam kesehariannya juga miskin dengan ide dan gagasan sehingga sangat minim dengan peluang dan terobosan dalam rangka memulai sebuah usaha yang memungkinkannya keluar dari kungkungan kemiskinan.
- Dalam hubungan sosial kemasyarakatan penduduk miskin dihadapkan pada permasalahan kurangnya wawasan dan pergaulan dengan dunia luar sehingga lemah terhadap akses informasi yang sesungguhnya memberikan banyak peluang untuk meningkatkan kesejahteraannya.
- Semakin beratnya tantangan untuk menghindari pola hidup konsumtif.
- Tingkat Pendidikan yang Rendah dan Kurangnya Keterampilan Individu
- Pengangguran
- Tingginya beban hidup keluarga akibat banyaknya anggota keluarga
- Masih rendahnya komitmen pimpinan dalam penetapan kebijakan penanggulangan kemiskinan.
- Menggunakan 1 basis data yaitu Basis Data Terpadu (BDT) untuk semua program penanggulangan kemiskinan di Provinsi NTB. Penggunaan satu basis data ini diterapkan bagi program kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi NTB oleh Kementerian/ Lembaga, OPD Provinsi NTB, Kabupaten/Kota, Desa/Kelurahan, BUMN/BUMD, NGO, Swasta dan masyarakat. Implementasi dari upaya ini diwujudkan melalui Program NTB Satu Data dan NTB Satu Peta. Disamping itu untuk memudahkan setiap pengguna data BDT ini, Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) NTB mengembangkan BDT ini dalam berbagai bentuk data yang praktis digunakan diantaranya: BDT yang sudah dipilah berdasarkan karakteristik kemiskinannya seperti: karakteristik ber mata pencaharian sebagai petani, nelayan, pemulung, peternak, industry pengolahan dll. Disamping itu ada juga BDT yang sudah dikembangkan menjadi aplikasi SDGs dan Kemiskinan, serta peta kemiskinan untuk 500 desa paling miskin yang sudah ditetapkan dengan Keputusan Gubernur NTB. Dalam rangka mengakomodir kebutuhan anggota DPRD pada wilayah Dapil masing-masing, TKPKD juga mengembangkan BDT yang sudah dipilah berdasarkan Dapil yang disebut sebagai “BDT berbasis Dapil”.
- Dalam rangka mengatasi permasalahan belum terintegrasinya program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan di NTB, Pemerintah Provinsi menetapkan 500 Desa yang paling banyak penduduk miskinnya di NTB untuk menjadi lokus dari setiap program/kegiatan penanggulangan kemiskinan di NTB. Dari 500 desa tersebut, 100 desa menjadi tanggungjawab Provinsi dan 400 desa menjadi tanggungjawab Kabupaten/Kota dan Desa.
- Satu program dikerjakan secara bersama-sama, contohnya KRPL yang dilaksanakan oleh Dinas Ketahanan Pangan bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui penyediaan Unggas dan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan untuk penyediaan bibit ikan. Demikian juga pembangunan Rumah Layak Huni yang dilaksanakan oleh Dinas Permukiman bisa bekerjasama dengan Dinas Kesehatan untuk penyediaan jamban dan dengan Dinas PUPR untuk penyediaan air bersih, rabat gang dan drainasenya.
- Model integrasi lainnya adalah dengan pembagian lokus kegiatan, misalnya KRPL yang bersumber dari dana APBD berbagi wilayah dengan yang bersumber dari APBN. Begitu juga halnya dengan Rumah Layak Huni berbagi wilayah antara yang dibiayai dari APBD dengan yang dibiayai dari dana CSR BUMN/BUMD/Swasta/BAZNASDA dan lain-lain.
- Untuk mengatasi adanya kesalahan diagnose dalam penetapan program yang tepat dan sesuai dengan permasalahan daerah maka sebelum penetapan program intervensi terlebih dahulu dilakukan analisis Basis Data Terpadu untuk melihat karakteristik kemiskinan pada suatu wilayah. Disamping itu juga harus dilakukan Analisis Belanja Publik untuk melihat berbagai hal yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan alternative intervensi program yang tepat untuk penanggulangan kemiskinan pada suatu wilayah. Beberapa alat analisis yang digunakan adalah:
- Analisis Perkembangan Antar Waktu
- Analisis efektifitas Program
- Analisis Relefansi Program
- Analisis Keterkaitan Program
- Analisis Prioritas Intervensi Wilayah dan beberapa alat analisis lainnya.
- Berkaitan dengan kebijakan nasional di NTB seperti kenaikan BBM, TDL dan kebijakan lainnya yang berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah penduduk miskin di NTB, untuk mengatasi permasalahan ini tidak banyak hal yang dapat kita lakukan karena penetapan kebijakan di tingkat pusat tentunya sudah ada pertimbangan oleh para pakar yang berkompeten, namun Pemerintah Provinsi tentu tidak tinggal diam tetapi tetap mengambil langkah-langkah diantaranya dengan memberikan masukan kepada Pemerintah Pusat untuk dapat menunda dulu kebijakannya atau langkah-langkah lain berupa tindakan mempersiapkan masyarakat dengan sosialisasi dan langkah-langkah antisipasi tingkat lokal seperti “Operasi Pasar Murah” agar dampak yang ditimbulkan tidah terlalu dirasakan oleh masyarakat miskin.
- Yang berkaitan dengan masih adanya kesalahan pemahaman tentang kemiskinan yang di anggap hanya merupakan aspek ekonomi semata perlu dilakukan advokasi yang lebih intens terutama di kalangan internal birokrasi sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penetapan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Disamping itu upaya untuk menggiring dalam rangka memperbaiki pola pikir yang kurang tepat tersebut juga dilakukan dengan melibatkan akademisi dari perguruan tinggi yang ada di NTB untuk turut berkontribusi memberikan sumbangan pikiran sebagai tim pakar dalam penanggulangan kemiskinan, sehingga dalam berbagai kesempatan para pakar ini memberikan pencerahan kepada stakeholder yang terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan di NTB.
- Tingginya nuansa politik dalam penetapan kebijakan anggaran perlu dibenahi dengan meningkatkan ketersediaan data sasaran yang up to date dan akuntabel sehingga dapat menjadi pertimbangan yang lebih jelas dalam pengambilan keputusan. Disamping itu penggunaan sistim aplikasi e-planning dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran diharapkan dapat lebih mengarahkan program/kegiatan ke sasaran yang tepat dan meminimalisir intervensi politik yang terlalu dominan. Dan untuk membekali DPRD dengan data yang lengkap TKPKD telah menyiapkan data BDT berbasis Dapil sebagai dasar pertimbangan utama untuk menetapkan sasaran program/kegiatan.
- Semakin terbatasnya daya dukung dan daya tampung lahan bagi penduduk miskin yang berprofesi sebagai petani dapat di atasi dengan mengembangkan pertanian yang lebih modern dengan bantuan input teknologi yang lebih modern kepada petani. Input teknologi yang lebih modern tersebut bisa berupa bantuan peralatan mekanisasi yang dapat mempermudah dalam bertani dan bisa meningkatkan produktifitas pada lahan yang terbatas. Bantuan teknologi juga dapat dalam bentuk bantuan Drip Irrigation (irigasi tetes) yang bisa meningkatkan pertanaman dalam suatu lahan sehingga yang semula hanya panen sekali dapat menjadi 3 atau 4 kali panen. Yang berkaitan dengan terjadinya degradasi lahan sebagai akibat dari penggunaan sumber daya alam yang berlebihan dengan mengabaikan kelestarian lingkungan dapat di atasi dengan menerapkan sistim pertanian konservasi dalam budidaya pertanian pada lahan-lahan yang sudah kritis. Dalam rangka meningkatkan hasil dari lahan yang terbatas juga di atasi dengan meningkatkan nilai tambah dari produk hasil pertanian yang ada dengan melakukan pengolahan hasil pertanian tersebut terlebih dahulu sebelum di pasarkan. Disamping itu keterbatasan kepemilikan lahan juga harus disikapi dengan pemilihan jenis komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi seperti komoditi hortikultura atau jenis komoditi lainnya, sehingga dengan luasan lahan yang sempit mendapatkan hasil produksi yang lebih tinggi nilai ekonomisnya.
- Untuk mengatasi lemahnya daya juang dan karakter penduduk miskin bukan merupakan pekerjaan yang ringan, karena hal tersebut sudah mendarah daging dan membudaya dalam hidup dan kehidupannya. Sehingga upaya untuk mengatasi permasalahan ini harus dibagi dalam dua skenario yaitu skenario jangka pendek dan jangka panjang seuai kondisi dan permasalahan yang ada.
- Untuk mengatasi karakter masyarakat miskin yang bersifat pemalu dan susah bicara jika berkumpul dalam satu kelompok dengan masyarakat yg lebih maju apalagi kalau dalam forum tersebut ada pejabat atau tokoh yang disegani, maka upaya jangka pendek yang bisa dilakukan adalah dengan mengelompokkan dalam satu kelompok yang homogen atau setara sehingga setiap individu yang ada dalam forum tersebut tidak segan untuk bicara mengeluarkan unek-uneknya, disamping itu kelompok-kelompok masyarakat seperti ini harus lebih sering di ajak bicara dan dilibatkan dalam berbagai forum sehingga lambat laun menjadi terbiasa untuk berbicara dalam forum. Sedangkan upaya jangka panjang membutuhkan satu generasi lagi dengan meningkatkan kapasitas SDM masyarakat miskin sejak dini melalui dunia pendidikan karena apabila berbagai upaya jangka pendek tersebut diatas tidak bisa mengatasi permasalahan tersebut karena kondisi karakter individu yang sudah susah dirubah, maka alternatif generasi penerusnyalah yang harus dibina dan difasilitasi sehingga tidak terjadi proses pewarisan kemiskinan pada generasi berikutnya akibat karakter yang tidak mendukung untuk membentuk masyarakat sejahtera.
- Kondisi masyarakat miskin yang mudah pasrah dan merasa cepat puas dengan kondisi yang ada harus ditangani dengan komprehensif, yang dimulai dengan upaya pemberdayaan masyarakat miskin dengan menggerakkan semangat yang pantang menyerah baik melalui komunikasi verbal maupun study komparasi, dan pilot project yang memberikan contoh kongkrit bahwa masih ada masyarakat yang kondisinya jauh lebih parah diluar sana tapi mampu bangkit dan keluar dari lembah kemiskinan karena memiliki semangat dan keinginan yang kuat untuk maju dan berubah. Setelah langkah pemberdayaan harus dilanjutkan dengan memberikan input fisik berupa bantuan sarana usaha atau input fisik lainnya sesuai potensi yang dimiliki, sehingga setelah yang bersangkutan menerima pembekalan melalui pemberdayaan dapat mereka lanjutkan dengan memulai aktifitas usaha/kegiatan yang dapat memberikan sumber penghasilan untuk hidup lebih layak. Tidak cukup dengan itu, upaya untuk menjamin adanya keberlanjutan terhadap berbagai bantuan yang sudah diberikan harus tetap di pantau, di monitoring dan di evaluasi sehingga dapat dipastikan bahwa penduduk miskin tersebut meningkat status kesejahteraannya.
- Kondisi yang paling banyak terjadi pada masyarakat miskin adalah miskin ide dan gagasan. Dan untuk membuat masyarakat miskin kaya akan ide dan gagasan maka kapasitas SDMnya harus terus di asah, baik melalui pelatihan maupun memberikan informasi tentang contoh ide dan gagasan di tempat lain yang memiliki potensi untuk mereka juga lakukan. Contoh ide dan gagasan tersebut harus diberikan dalam berbagai pilihan dan alternatif sehingga dapat disesuaikan dengan keahlian,potensi dan daya dukung lingkungan serta peluang pasar yang menguntungkan bagi mereka.
- Permasalahan kurangnya wawasan dan pergaulan dengan dunia luar memang menjadi salah satu penghambat untuk maju, dan untuk mengatasi hal tersebut penduduk miskin harus diberikan peningkatan kapasitas SDM dan sosialisasi tentang bagaimana membuka wawasan berpikir agar lebih luas dan memfasilitasi masyarakat miskin untuk dapat berkomunikasi dengan dunia luar, baik dengan menghadirkan orang-orang potensial dari luar yang dapat membantu perluasan jaringan pergaulan, maupun dengan membantu akses masyarakat miskin terhadap informasi dari luar melalui dunia maya, sehingga dari interaksi tersebut diharapkan ada peluang yang bisa dikerjasamakan dalam rangka perbaikan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat miskin.
- Lemahnya etos kerja juga merupakan permasaahan yang cukup pelik untuk ditangani karena walaupun sudah banyak bantuan dan fasilitasi yang diberikan oleh pemerintah untuk mendorong penduduk miskin keluar dari garis kemiskinan tetapi yang bersangkutan memiliki etos kerja yang lemah, maka berbagai upaya tersebut akan sulit untuk dijamin keberlanjutannya. Lemahnya etos kerja umumnya disebabkan oleh 2 hal yaitu pertama karena karakter individual masyarakat yang malas, dan yang kedua disebabkan oleh kondisi masyarakat yang frustasi karena berbagai upaya yang sudah dilakukan belum memberikan hasil yang memuaskan, atau bisa juga rasa malas situ muncul sebagai bentuk kekecewaan akibat adanya kondisi yang termarginalkan karena tidak adanya akses secara social dan politik untuk mendapatkan bantuan dan perhatian dari pemerintah. Untuk mengatasi hal tersebut maka bagi masyarakat yang karakternya memang malas maka langkah yang harus di ambil adalah terus menggugah masyarakat tersebut untuk ikut serta dalam berbagai program penanggulangan kemiskinan tentu dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Misalnya kalau selama ini rasa malas itu muncul mungkin karena pendekatannya individual, maka dapat dirubah dengan pendekatan kelompok sehingga dalam kelompok tersebut ada motivasi dari rekan lainnya yang ada dalam kelompok tersebut untuk bersama-sama keluar dari belenggu kemiskinan.
- Semakin beratnya tantangan untuk menghindari pola hidup konsumtif.
- Tingkat Pendidikan yang Rendah dan Kurangnya Keterampilan Individu
- Tingginya beban hidup keluarga miskin akibat banyaknya anggota keluarga yang diakibatkan oleh adanya prinsip banyak anak banyak rezeki harus diatasi dengan melakukan penyadaran melalui advokasi dan sosialisasi dengan bekerjasama dengan berbagai pelaku pembangunan lainnya yang terkait dengan kependudukan diantaranya BKKBN untuk dapat memberikan pencerahan dengan melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih intensif. Disamping itu upaya lainnya yang juga dapat ditempuh adalah melalui bekerjasama dengan tokoh agama yang dapat memberikan ceramah dari sisi keagamaan bahwa prinsip banyak anak banyak rezeki adalah bukan prinsip yang baik jika tidak mampu memberikan nafkah yang cukup untuk kehidupan yang layak.
- Khusus untuk masih lemahnya komitmen pimpinan dalam rangka penetapan kebijakan yang pro poor memang dibutuhkan upaya yang terus menerus untuk melakukan advokasi dengan melibatkan TNP2K selaku Unit kerja penanggulangan kemiskinan di tingkat Nasional sehingga setiap pimpinan baik di pusat maupun di daerah memiliki pemahaman, kepedulian dan keinginan yang kuat untuk melahirkan kebijakan-kebijakan penanggulangan kemiskinan yang lebih Pro Poor di daerah. Pimpinan yang dimaksudkan disini adalah pada semua level dan jenjang pemerintahan baik di pusat yang dimulai dari pimpinan Negara, pimpinan kementerian/lembaga sampai ke pimpinan unit kerja. Demikian juga di daerah yang dimaksudkan sebagai pimpinan adalah mulai dari pimpinan daerah, pinpinan OPD, sampai pada pimpinan unit kerja terkecil yang ada di daerah. Setiap pimpinan dari pusat sampai daerah tentunya berkontribusi untuk penanggulangan kemiskinan sesuai kewenangan dan tanggungjawab yang melekat pada jabatannya.
- Sudahkah program/kegiatan pembangunan jalan dan jembatan perencanaan pembangunannya mengarah kepada desa-desa atau wilayah yang penduduk miskinnya banyak dan terisolir sehingga arus barang dan jasa ke wilayah tersebut berjalan lancar agar memudahkan penduduk miskin pada wilayah tersebut melaksanakan aktifitas ekonominya yang dapat mendorong mereka untuk keluar dari garis kemiskinan.
- Sudahkah program/kegiatan pembangunan sarana pelayanan public seperti sarana kesehatan dan pendidikan mempertimbangkan desa-desa yang banyak penduduk miskinya?, karena salah satu beban yang berat bagi penduduk miskin adalah meningkatkan akses mereka ke sarana kesehatan dan pendidikan. Semakin jauh lokasi sarana kesehatan dan pendidikan dari rumah penduduk miskin maka akan semakin berat beban akses mereka ke sarana tersebut dan membutuhkan biaya transportasi yang semakin besar.
- Sudahkah program/kegiatan pembangunan sarana ekonomi seperti pasar dan perbankkan mengarah kepada desa-desa atau wilayah yang penduduk miskinnya banyak, karena keberadaan sarana tersebut yang lebih dekat dari permukiman penduduk miskin dan lebih mudah di akses akan sangat membantu mereka untuk menjalankan aktifitas ekonominya seperti kemudahan untuk mendapatkan modal dari perbankkan, maupun kemudahan untuk menjual hasil produksi mereka ke pasar. Jika kemudahan-kemudahan tersebut mereka dapatkan, maka akan mempermudah penduduk miskin untuk meningkatkan pendapatannya yang berdampak langsung pada keluarnya penduduk miskin tersebut dari garis kemiskinan.
- Disamping pembangunan infrastruktur pendukung, hal lain juga yang harus digerakkan dalam rangka menurunkan angka kemiskinan yaitu mendorong berkembangnya investasi pada suatu wilayah. Untuk berkembangnya investasi banyak hal yang harus dipersiapkan diantaranya kejelasan dan kemudahan investor untuk mendapatkan perizinan dalam investasi, kepastian tentang arah penggunaan ruang wilayah baik melalui RTRW maupun RDTR, kejelasan tentang potensi SDA dan SDM yang mendukung investasi, keamanan dan ketertiban wilayah yang terjaga serta berbagai kebutuhan investasi lainnya. Berkembangnya investasi ini pada akhirnya akan dapat berkontribusi pada penanggulangan kemiskinan karena akan memberikan peluang kerja bagi masyarakat sekitar sehingga memberikan penghasilan yang pasti bagi peningkatan pendapatan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.
