Upacara Ngayu-Ayu, Keelokan Budaya dari Lereng Rinjani

Ngayu-ayu-sembalun

Tanah yang subur dari sisa letusan gunung Rinjani dulu, kini menumbuhkan banyak tanaman & hewan endemik khas yg berkualitas (Biological heritage) yang sampai saat ini menjadi berkah terus menerus bagi hewan, tumbuhan dan manusia disekitarnya.  Gunung Rinjani sebagai sebuah warisan geologi (Geological heritage) ternyata juga memberikan banyak inspirasi bagi tumbuh dan berkembangnya seni budaya (Cultural heritage) bagi masyarakat sekitarnya. Bentuk Geleng (lumbung padi) berbentuk gunung, Hikayat, Cerita Rakyat, Dongeng, Tulisan Lontar, aneka upacara adat adalah beberapa contoh hasil karya seni budaya masyarakat yang lahir dan terinspirasi dari gunung Rinjani.

Salah satunya Upacara Adat ‘Ngayu-Ayu’ masyarakat lereng Rinjani, Sembalun dimana tim dari Geopark Rinjani Lombok tanggal 17 dan 18 Juli 2019 kemarin berkesempatan menghadiri Upacara tiga tahunan ini. Upacara ini adalah sebuah bentuk rasa syukur masyarakat Sembalun atas segala rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa melalui mata air yg mengalir, pohon & aneka tanaman yg tumbuh diatas tanah yg subur yang secara turun temurun telah mereka nikmati hingga kini.  Bila dulunya letusan gunung Rinjani dianggap hanya melahirkan duka nestapa, dianggap hanya musibah semata, tapi seiring waktu berlalu, kini letusan dan sisa letusan itu telah memberi banyak berkah bagi kehidupan manusia. Bukan hanya berupa kesuburan tanah, tapi panorama alam yg dihasilkannya telah mempesonakan jutaan wisatawan dari berbagai belahan dunia untuk datang menikmatinya. Kini, gunung Rinjani dan sekitarnya telah diakui keindahan alamnya, kesuburan tanahnya, keelokan budayanya menjadi sebuah taman bumi kelas dunia oleh UNESCO. Sejajar dengan berbagai taman-taman bumi lainnya di Eropa, Amerika, China, Kanada dan negara lainnya. (Ramli/BP-RLUGGp)