Kajian LITBANG 31-10-2018

Seminar Akhir Kajian Litbang dengan Judul Masalah Stunting dan Masalah Pengelolaan Sampah

Mataram- Rabu 31Oktober 2018, bidang Litbang kembali mengadakan Seminar kajian tahap akhir yang kali ini mengangkat dua judul penelitian diantaranya adalah “Kajian Pengelolaan Sampah Plastik Melalui Daur Ulang Berbasis Masyarakat di Daerah Wisata Lombok”; “Partisipasi Masyarakat Dalam penanganan Stunting d Kota Mataram”,dimana salah satu judul kajian menjadi salah satu program Gubernur NTB yakni mengatasi permasalahan sampah.

Seminar yang dibuka dan dimoderatori oleh Kasubid Ekonomi Wilayah Bappeda Provinsi NTB Saharudin,S. Sos,MH. Ini dihadiri oleh para pemateri, para staf lingkup Bappeda dan para stakeholder dari berbagai elemen, instansi dan OPD terkait yang ada di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Kajian LITBANG 31-10-2018Judul Pertama yang diseminarkan “Kajian Pengelolaan Sampah Plastik Melalui Daur Ulang Berbasis Masyarakat di Daerah Wisata Lombok” di sampaikan oleh Dr. Yayuk Andayani perwakilan dari Dewan Riset Daerah NTB, memaparkan bahwa masalah stunting bukan hanya menjadi masalah di daerah saja tetapi menjadi persoalan nasional. Penelitian dilakukan di Kota Mataram dan hampir semua responden masih asing dengan istilah stunting sehingga perlu diberikan pengertian dan pemahaman tentang stunting. Definisi stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya (kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun).

Di Provinsi NTB masalah stunting menjadi perhatian bukan hanya terletak di institusi pemerintahan saja, tetapi di kalangan masyrakat juga karena menyadari bahwa masalah stunting ini  berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas, kemudiaan menghambat petumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan. Untuk masalah stunting ini Provinsi NTB menempati urutan ke empat tertinggi secara nasional, sehingga dibutuhkan penanganan khusus oleh isntansi-instansi terkait untuk bekerjasama dalam menangani masalah stunting.

Permasalahan stunting merupakan masalah multifaktor antara laian: masalah gagal tumbuh masa janin, kekurangan gizi mikro, kekurangan gizi maro, pemberian ASI buruk, permasalahan ini timbul dari ada permasalahan besar yang ada di masyarakat seperti masalah kemiskinan, kestabilan social politik, sanitasi lingkungan dan air bersih, ketahanan pangan rendah dan akses pelayanan kurang.

Dari semua lokus masyarakat yg diteliti ternyata sebagaian besar tidak mengetahui tentang stunting terutama berkaitan dengan definisi stunting. Masyarakat masih beranggapan bahwa masalah stunting adalah masalah yang biasa karena adanya anggapan bahwa stunting adalah penyakit keturunan dabn pengaruh dari gizi buruk dan dalam penelitian ini akan dikaji bagaimana bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam mendukung penanganan masalah stunting di Kota Mataram.

Kajian LITBANG 31-10-2018Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa stunting ini disebabkan oleh faktor multi dimensi antara lain; praktek pengasuhan yang tidak baik dari berkaitan gizi pada masa kehamilan sampai dengan pengasuhan, terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care, Post Natal dan pembelajaran dini yang berkualita, kurangnya akses kemakanan bergizi, serta kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Bentuk partisipqasi masyarakat yang diharapkan antara lain; akan memperhatikan tentang gizi balita; perlu sosialisasi tentang stanting; kegiatan jimpitan warga perlu bantuan pemerintah untuk  kecukupan asupan gizi, sehingga bisa ditarik  kesimpulan bahwa pemahaman masyarakat  tentang stunting masih rendah, faktor pendukung terjadinya stunting masih kompleks dan  bentuk partisipasi masyarakat dalam penanggulangan stunting belum kongkrit.

Materi kedua dengan judul “Kajian Potensi Pengelolaan Sampah Plastik Melalui Daur Ulang Berbasis Masyarakat di Daerah Wisata Lombok: Desa Saribaye, Lombok Barat” disampaikan oleh Adhitya Yusuf, S.Si, M.Env  perwakilan dari Daur Project memaparkan bahwa masalah sampah bukan lagi menjadi masalah daerah ataupun masalah nasional tetapi sudah menjadi isu global. Indonesia merupakan Negara pengguna sampah plastik terbesar ke dua di dunia setelah Cina.

Permasalahan sampah ini juga menjadi program prioritas dari Gubernur NTB karena sampai dengan saat ini belum ada penanganan yang maksimal tentang penanganan sampah dan belum adanya pengelolaan sampah yang berkelanjutan,, dan ini merupakan tantangan bagi Pemprov NTB karena Provinsi NTB merupakan salah satu tempat destinasi wisata sehingga diperlukan kerjasama dari semua pihak serta peran serta seluruh masyarakat dalam menangani permasalahan sampah.

Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan di salah satu desa di Kabupaten Lombok Barat yakni Desa Saribaye yang merupakan desa wisata untuk masyarakat lokal dan merupakan desa berkembang, lokasi Desa Saribaye yang terletak didekat bantaran Sungai Jangkok belum memiliki pengelolaan sampah karena belum tersedianya fasilitas untuk pembuangan sampah seperti adanya TPS atau TPA. Pengelolaan sampahnya masih bersifat induvidu belum terkoordinir dan belum dipilah-pilah dan langsung dibuang kesungai. Perilaku masyarakat yang masih saja membuang sampah di sungai belom bisa dirubah karena mereka beranggapan bahwa sungai adalah tempat pembuangan akhir sampah. Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden bahwa masyarakat mengetahui akan dampak dari membuang sampah kesungai seperti menimbulkan beberapa jenis penyakit kemudian bencana banjir tetapi mereka belum bisa dikatakan sadar lingkungan.

Berdasarkan hasil penelitian terdapat satu komunitas swadaya masyarakat yang merupakan inisiatif masyarakat sendiri yaitu bank sampah my daring yang berpotensi dalam pengelolaan sampah berkelanjutan dengan jumlah nasabah sebanyak 99 KK dari total 738 KK. Masyarakat di Desa Saribaye ini memiliki keterampilan dalam membuat anyaman dari bahan ketak sehingga bisa dimodifikasi dengan memanfaatkan limbah plastik untuk menghasilkan beerapa produk dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarat desa.

Berdasarkan analisis SWOT diperoleh hasil bahwa; Strenght (kekuatan) masyarakat memiliki kemauan yang besar dalam mengelola sampah tetapi blom ada fasilitas yang tersedia dan adanya komunitas bang sampah yang sudah terbentuk dari swadaya masyarakat; weeknesses (kelemahan), kesadaran masyarakat yang masih rendah, sarana dan prasarana serta pengelolaan sampah yang belum memadai, modal yang tidak sedikit untuk memulai daur ulang; opportunities (peluang), jumlah penduduk produktif yang besar dan potensi demografi yang memadai , potensi ekonomi yang besar dari proses value-added melalui daur ulang, kegiatan daur ulang dapat menjadi daya tarik wisata, serta hasil produk yang unik bisa menjadi ciri khas desa; Threats (ancaman) berupa tantangan dalam mengubah kebiasaan masyarakat Pasar dari produk daur ulang yang masih berkembang. Dari hasil penelitian dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu; Warga Desa Saribaye tahu tentang dampak membuang sampah plastik sembarangan, tetapi belum memiliki kesadaran lingkungan, Warga Desa Saribaye memiliki kemauan untuk mengelola sampah plastik,   namun terbatas dengan sarana dan prasarana, terbatasnya infrastruktur pengelolaan sampah di Desa Saribaye, tidak menghalangi warga untuk mengelola sampah plastik secara swadaya melalui komunitas. Daur ulang sampah plastik dapat menghasilkan produk sebagai solusi alternatif mengurangi polusi plastik sekaligus menambah penghasilan.

Tahap akhir seminar ini kemudian diisi dengan berbagai saran dan masukan dari para peserta yang hadir dari berbagai stakeholders terkait. Antara lain masukan dari Hj. Nurhani dari Pokja III PKK Provinsi NTB, memberikan masukan serta saran bahwa masalah sampah merupakan masalah bersama sehingga perlu dipikirkan secara bersama-sama bagaimana mengelola sampah kedepannya. Pengelolaan sampah masih terbatas dalam menghasilkan produk dari sampah bentuk gelas n botol, sehingga perlu dipikirkan bagaimana memanfaatkan sampah plastik/kresek yang sangat banyak di gunakan oleh skala rumah tangga. PKK sendiri sudah sering melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendaur ulang ampah plastik menjadi produk yang bernilai ekonomi. Permasalahan sampah ini berkaitan dengan perilaku yang harus dirubah karena berkaitan dengan memunculkan kesadaran induvidu tentang dampak buruk dari membuang sampah sembarangan.

Masukan lainnya juga disampaikan oleh Ummi Cahyani perwakilan dari STIP Banyumulek memberikan masukan bahwa pihak STIP menyanggupi untuk pembuatan mesin yang berkaitan dengan pengolahan sampah seperti mesin pencacah sampah. Perlu dipikirkan juga penangan sampah dari plastic/kresek menjadi alternatif bahan bakar. Kemudian masukan juga diberikan oleh Akbar Kurniadi perwakilan dari Dinas Sosial NTB, agar memberikan pemahaman n pengertian mengenai stunting dari masa kehamilan samapi anak lahir agar persoalan stunting ini bisa tertanganai dengan baik, dengan melibatkan pihak-pihak terkait terutama yang berada di tingkat desa seperti posyandu-posyandu, kemudian melibatkan PKK dalam memberikan pemahaman mengenai stunting.

Pak syawaludin sebagai penggiat sampah juga memberikan masukan bahwa investasi terbesar dalam penanganan masalah sampah adalah membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mengelola sampah yang dimulai dari diri sendiri dan ini bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan karena berkaitan dengan perilaku dan kebiasaan. Karena masih saja dijumpai ada masyarakat yang membuang sampahnya ke kali ataupun sungai sebagai tempat pembuagan akhir, sehingga perlu dipikirkan bersama-sama bagaimana mengatasi permasalahan sampah ini salah satunya yaitu dengan daur ulang yang dapat mengurangi volume sampah.

  Menutup seminar kajian akhir ini, Kasubid Litbang Bappeda, Saharudin, S. Sos, MH., menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh peserta atas sumbangsih pemikirannya demi kemajuan daerah kita tercinta.