POCQI, Hal Baik Harus Terus Berlanjut

Hartati, S.Si.T., M.Kes., selaku Koordinator Pembangunan Bidang Kesehatan dan Sosial Budaya pada Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Provinsi NTB membuka pertemuan “Monitoring Pelaksanaan Plan Of Care Quality Improvement (POCQI) Dalam Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi di RSUD Patut Patuh Patju dan Puskesmas Kuripan” di ruang rapat Bappeda Kabupaten Lombok Barat. Monitoring kali ini bertujuan untuk mengetahui kemajuan, hambatan dan seberapa besar manfaat dari penerapan POCQI” Ujar Hartati. Rabu 7 September 2022.

Program dukungan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dengan pendekatan POCQI merupakan salah satu dari beberapa kegiatan yang berlangsung di NTB dengan kerjasama antara Pemerintah Provinsi NTB dengan UNICEF. Ketua IAKMI, Mohammad Abdullah, SKM menjelaskan bahwa POCQI adalah metode yang digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan di fasilitas kesehatan. Diawali dengan mengidentifikasi masalah, lalu menentukan prioritas, kemudian membentuk tim yang akan memastikan solusi berjalan secara berkelanjutan.

Penerapannya tidak membutuhkan anggaran besar, namun dapat mencapai efektifitas yang maksimal. Seperti program melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) satu jam pada persalinan normal di Puskesmas Kuripan. Tidak membutuhkan biaya mahal, melainkan hanya pengetahuan dan kedisiplinan tenaga kesehatan untuk menjalankannya. Peningkatan ketertiban melaksanakan IMD berdampak pada turunnya HPP (Hemoragic Post Partum) atau pendarahan pasca persalinan pada ibu bersalin, dari 16,6% menjadi 6,1%. Penurunan HPP juga terjadi di di RSUD Patut, Patuh, Patju karena diterapkannya project “menurunkan angka kejadian Rest Plasenta di ruang bersalin instalasi Ibu dan bayi dan Kepatuhan petugas dalam kelengkapan pengisiaan patrograf diruang bersalin”, ujar tim mutu dari RSUD tersebut.

Diskusi berjalan aktif, “Kami tidak merasa berat, malah lebih terbantu. POCQY ini mempertajam yang sudah ada. Membantu pekerjaan keseharian kita, mencari simpul masalah, lalu dicari solusinya yang efektif. Ini bukan tentang sesuatu yang butuh biaya besar, menyelesaikan masalah kecil, tapi jika diselesaikan akan solutif”, Ujar Muhammad menambahkan.

Selain menurunkan HPP, RSUD Patut, Patuh Patju juga berhasil menganalisis beberapa program lainnya yang kemudian berdampak positif pada turunnya angka bayi kematian bayi saat persalinan. Seperti menurunkan kejadian hipotermia pada bayi baru lahir, menurunkan kematian bayi karena aspixia. Keberhasilan RSUD ini menggunakan metode POCQY dalam menemukan akar masalah, program yang solutif, dan memastikan keberlanjutannya, menjadikan RSUD Patut Patuh Patju ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan sebagai RSUD percontohan. “Jangan sampai NTB selalu menjadi percontohan saja, namun daerah lain yang lebih sukses menerapkannya” ujar Taufiq Hari Suryanto, SKM mengingatkan.

Masih mengalami beberapa tantangan, seperti kurangnya SDM yang terlatih, terbatasnya sarana dan prasarana. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat diharapkan dapat terus mendukung kedepannya. “Hal-hal positif mohon dilanjutkan, walaupun UNICEF nanti akan berakhir tahun 2025, karena metode ini memiliki daya ungkit yang cukup signifikan” Ujar Tuti Hera Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Privinsi NTB.

RKPD 2023 sudah diketok, saat ini sedang penyusunan RKA , mungkin bisa di perubahan “Ujar Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Lombok Barat. “Walaupun kondisi fiskal sedang tidak sehat, hal baik seperti ini akan kita usahakan sumber anggarannya, karena sangat bermanfaat untuk kemajuan Lombok Barat” ujarnya menutup pertemuan hari itu.

Penulis: Maulida Illiyani, PPID Bappeda NTB