Jember – Malang, 20–22 Oktober 2025. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Nusa Tenggara Barat Bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Dinas Perindustrian NTB, Dinas Perdagangan NTB, Tim Ahli Gubernur NTB, serta LSM Lauk melaksanakan studi tiru pengembangan dan perniagaan tembakau ke beberapa perusahaan di Jawa Timur, yaitu PT Mangli Djaya Raya, PT BIN Cigar Jember, PT Mitra Tani Dua Tujuh, dan CV Lintas Makmur Tobaco. Kunjungan ini bertujuan memperkaya wawasan dan menjajaki peluang kerja sama untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tembakau di NTB.
Provinsi NTB selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau Virginia terbesar di Indonesia, dengan rata-rata produksi mencapai 67.855 ton per tahun. Namun, para petani, terutama yang bersifat swadaya, masih menghadapi fluktuasi harga yang menyebabkan kerugian di musim panen raya. Untuk itu, pemerintah daerah mencari solusi melalui kemitraan dan peningkatan pengolahan pascapanen.
Di PT Mangli Djaya Raya, perusahaan yang telah berdiri sejak 1960 dan menjadi salah satu pemain utama industri tembakau nasional, rombongan Bappeda NTB mempelajari sistem pengolahan, pengeringan, hingga ekspor tembakau ke berbagai negara Eropa dan Amerika. Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 7.000 karyawan dengan 25 fasilitas di seluruh Indonesia.
Bappeda NTB menyoroti pentingnya peran pemerintah sebagai penghubung antara petani dan industri agar petani Lombok yang menanam tembakau dapat memperoleh harga jual yang lebih stabil. Dukungan berupa asuransi pertanian pun terus diupayakan untuk melindungi petani dari fluktuasi harga.
Sementara itu, LSM Lauk berharap adanya kerja sama dengan PT Mangli Djaya Raya untuk membeli hasil tembakau Lombok, khususnya jenis Virginia, yang dinilai memiliki aroma khas dan kualitas tinggi. Mereka juga berdiskusi tentang upaya menjaga kualitas tembakau agar tidak mudah berjamur dan tetap bernilai jual tinggi.
Kunjungan dilanjutkan ke PT BIN Cigar Jember, produsen cerutu terbesar di Indonesia yang mengelola 241 merek terdaftar di Bea Cukai. Perusahaan ini menggunakan bahan baku dari tiga daerah utama—Sumatera Utara, Klaten, dan Jember—serta mempekerjakan 1.500 orang, sebagian besar perempuan. Proses produksi dilakukan secara manual dengan pengendalian kualitas yang ketat sehingga produk cerutu Indonesia mampu bersaing di pasar global.
Dalam sesi diskusi, Bappeda NTB menilai perlunya pengembangan varietas tembakau lokal agar memenuhi standar industri cerutu. Tantangan utama masih terletak pada fluktuasi harga di tingkat petani dan keterbatasan pasar domestik. Ke depan, pasar ekspor menjadi peluang yang perlu digarap dengan dukungan branding dan standardisasi yang kuat.
Kunjungan berikutnya ke PT Mitra Tani Dua Tujuh, perusahaan agroindustri penghasil edamame dan sayuran beku, membuka peluang baru bagi NTB untuk mengembangkan sektor hortikultura. Bappeda menilai potensi tanaman edamame di Lombok cukup besar, dan berharap kerja sama dapat terjalin untuk membangun pabrik dengan kapasitas menengah di Lombok, guna meningkatkan nilai tambah hasil pertanian daerah.
Terakhir, rombongan mengunjungi CV Lintas Makmur Tobaco di Malang, perusahaan tembakau yang dikenal sebagai pemasok bahan baku rokok berkualitas tinggi. Pemerintah NTB menyampaikan harapan agar perusahaan ini dapat menjalin kemitraan dengan petani tembakau Lombok serta mempertimbangkan pembangunan pabrik di wilayah NTB.Kegiatan studi tiru ini memberikan wawasan strategis bagi Bappeda NTB dalam pengembangan industri tembakau dan hortikultura. Melalui sinergi dengan perusahaan besar dan praktik terbaik di Jawa Timur, diharapkan NTB dapat memperkuat rantai nilai pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Dari hasil kunjungan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB merumuskan beberapa tindak lanjut strategis, di antaranya:
- Memprioritaskan pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) untuk membantu petani dan buruh tembakau dalam menekan biaya produksi.
- Meningkatkan kapasitas pengolahan hasil panen menjadi produk setengah jadi dan jadi.
- Menyediakan fasilitas penyimpanan hasil panen untuk menjaga kestabilan harga.
- Mendorong diversifikasi tanaman pascapanen tembakau agar pendapatan petani tetap terjaga.
Kepala Bappeda NTB menegaskan bahwa kegiatan study tiru ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri tembakau NTB agar lebih berdaya saing, sekaligus membuka peluang kerja sama antar daerah dan pihak swasta.