LITBANG BAPPEDA SEMINARKAN ENAM JUDUL KAJIAN SELAMA DUA HARI

WhatsApp Image 2018-07-03 at 9.47.54 AM

Mataram – Rangkaian kegiatan seminar pendahuluan dengan enam judul kajian yang dianggarkan dalam DPA bidang Litbang Bappeda Prov. NTB diadakan selama dua hari berturut-turut, Senin dan Selasa tanggal 2 dan 3 Juli 2018. bertempat di ruang rapat Lakey kantor Bappeda Provinsi  Nusa Tenggara Barat.  Enam Judul kajian tersebut dibagi dua, dimana hari pertama dibahas tiga judul dan hari kedua dibahas tiga judul lainnya. Seminar ini dihadiri oleh para pemateri, staf Litbang Bappeda dan para stakeholder dari berbagai elemen, instansi dan OPD terkait yang ada di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Seminar pendahuluan hari pertama dibuka dan dimoderatori oleh Kasubid Ekonomi Wilayah Litbang Bappeda NTB, Saharadin, S.Sos, MH. Tiga materi yang menjadi judul penelitian, yaitu; “Masterplan Geosite Tambora”, “Model Wilayah Pengembangan Tanaman Hortikultura Untuk Mendukung Pariwisata Halal dan Meningkatkan Pendapatan Petani di Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat”, dan “Peranan Kelembagaan Masyarakat untuk Mendukung Ekowisata Pantai di Lombok Timur NTB”.

Judul pertama yang diseminarkan tentang “Masterplan Geosite Tambora” dibawakan oleh Tim DPH Geopark Tambora. Dalam proposalnya, Tim DPH Geopark Tambora mencoba untuk melihat bagaimana klasifikasi dan karakteristik Geosite Tambora, serta zona-zona apa saja yang terdapat disana. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini, nantinya akan menggunakan metode pengumpulan data primer dan sekunder berupa observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi, serta melalui studi kepustakaan.

Materi berikutnya yang berjudul “Model Wilayah Pengembangan Tanaman Hortikultura untuk Mendukung Pariwisata Halal dan Meningkatkan Pendapatan Petani di Kabupaten Lombok Utara NTB.” Dalam proposalnya Prof. Dr. M Sarjan menjelaskan bahwa penelitiannya ini bertujuan untuk mencari model yang tepat untuk pengembangan tanaman hortikultura yang akan dipusatkan di Lombok Utara guna memenuhi permintaan industri pariwisata halal yang sedang berkembang di Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, potensi permintaan tanaman hortikultura khususnya buah dan sayur harus dapat ditangkap sehingga memberi kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat khususnya petani lokal. Selama ini pemenuhan kebutuhan industri pariwisata di NTB masih mengandalkan pasokan dari daerah luar, sehingga diperlukan suatu kajian yang dapat memberikan solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Materi ketiga sekaligus materi terakhir pada hari pertama dibawakan oleh Tim peneliti dari Dewan Riset Daerah Komisi Sains dan Teknologi berjudul “Peranan Kelembagaan Masyarakat untuk Mendukung Ekowisata Pantai di Lombok Timur NTB.” Dalam paparannya, Prof. Dr. Agil Al Idrus, MSi menjelaskan potensi ekowisata pantai khususnya mangrove yang ada di Gili Sulat Lombok Timur, dapat berkontribusi bagi PAD dengan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengembangannya. Untuk itu poin penting yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan identifikasi potensi dan permasalahan kelembagaan masyarakat di wilayah oantai yang dapat mendukung pengembangan ekowisata mengingat kekhasan yang dimiliki oleh wisata mangrove yang ada di GIli Sulat tersebut..

Setelah para pemateri menyelesaikan presentasinya, sesi berikutnya memberikan kesempatan kepada para audiens untuk memberikan saran, kritik atau masukan yang dapat memperkaya aspek-aspek yang akan diteliti. Seperti kritik terhadap locus penelitian yang disampaikan oleh Erik Widodo dari Biro Perekonomian Setda Prov NTB. Erik menyampaikan bahwa perlu adanya keseimbangan lokus penelitian antara pulau Lombok dan Sumbawa agar tidak terjadi kesenjangan pembangunan antara dua wilayah utama di NTB ini, mengingat topik penelitian yang disampaikan oleh pemateri mayoritas lokusnya berada di pulau Lombok.

Kemudian saran lainnya juga disampaikan oleh Dr. Agus Wijaya dari Unizar Mataram, yang memberi tekanan terhadap pentingnya dilakukan penelitian mengenai kesehatan pariwisata untuk mendukung pengembangan pariwisata halal di Nusa Tenggara Barat. Hal ini penting karena banyak destinasi wisata di NTB yang berada di alam terbuka dan jika dilihat dari berbagai aspek dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan wisatawan.  Sementara itu, poin yang tak kalah penting disampaikan oleh Dr Farid Said dari Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB, bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan harus dapat lebih mengeksploitasi aspek-aspek yang berkaitan dengan keberlanjutan atau sustainability dan kontribusi pariwisata bagi kepentingan masyarakat.

Pada hari kedua, Kabid Litbang Retno Untari S.Si, M.Kes memimpin langsung seminar dan sekaligus menjadi moderator dari tiga judul lainnya. Tiga materi tersebut, yaitu; “Identifikasi Faktor Penghambat dan Pendukung Pelaksanaan Universal Helath Coverage di Pulau Lombok”, “Efektifitas Alokasi Dana Desa dan Perannya Terhadap Pengentasan Kemiskinan”, dan “Model Pemberdayaan Ekonomi Bagi Santri dan Masyarakat oleh Pondok Pesantren di Pulau Lombok”.

Judul pertama yang diseminarkan pada hari kedua “Identifikasi Faktor Penghambat dan Pendukung Universal Health Coverage di Pulau Lombok”, yang diteliti oleh Tim Riset DRD NTB Komisi Kesehatan bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penghambat maupun pendukung kepesertaan JKN di wilayah pulau Lombok NTB. Pemateri I Dewa Gede Oka Wiguna SKM, M.Kes menjelaskan bahwa lokus penelitian terbagi menjadi tiga yaitu Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, dan Kota Mataram. Lombok Utara dipilih dikarenakan jumlah populasinya yang besar, Lombok Utara merupakan daerah yang berhasil menerapkan kebijakan Universal Health Coverage (UHC) mencapai 98 persen, dan Kota Mataram yang dipilih karena heterogenitas penduduknya.

Materi berikutnya yang diseminarkan, penelitian dengan judul “Efektifitas Alokasi Dana Desa dan Perannya Terhadap Pengentasan Kemiskinan”. Penelitian yang dilakukan oleh Tim Riset DRD NTB Komisi Ekonomi ini dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan terkait efektifitas Alokasi Dana Desa dan sejauh mana dampaknya terhadap penurunan kemiskinan. Hal ini dilakukan dengan berusaha menjelaskan peran dana desa terhadap ekonomi desa, peran alokasi dana desa terhadap upaya penurunan angka kemiskinan, dan proyeksi mengenai strategi penggunaan dana desa terhadap penurunan angka kemiskinan. Menurut Dr. Firmansyah, SE, MSi penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ini akan dilakukan di wilayah pulau Lombok, dan apabila memungkinkan akan dilakukan juga di pulau Sumbawa.

Materi terakhir yang menjadi judul penelitian di hari kedua “Model Pemberdayaan Ekonomi Bagi Santri dan Masyarakat oleh Pondok Pesantren di Pulau Lombok” dibawakan oleh Tim Riset DRD NTB Komisi Litbang. Menurut pemateri Mawardi Saleh, MPd yang juga merupakan tenaga pengajar UIN Mataram penelitian ini berusaha mengidentifikasi model pemberdayaan ekonomi bagi santri-masyarakat dan potensi pengembangan ekonomi serta kewirausahaan di pondok pesantren. Potensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki model pengajaran dimana para siswa atau santri tinggal menetap, menyimpan potensi ekonomi yang cukup menjanjikan.

Beberapa saran atau masukan dari audiens pada seminar ini salah satunya disampaikan oleh Prof. H. Mahyuni, MA, PhD terkait dengan cakupan penelitian Pelaksanaan UHC , dimana penting untuk disertakan analisa mengenai standar mutu pelayanan yang menjadi dasar keikutsertaan masyarakat terhadap pelayanan BPJS atau JKN. Selain itu informasi terkait dengan penelitian juga harus diperkaya agar kontribusi penelitian menjadi lebih optimal. Terkait dengan penelitian tentang Dana Desa, Prof. Mahyuni menekankan perlunya para peneliti untuk mencoba melihat berbagai masalah yang dihadapi dalam proses pembangunan di Desa dan  bagaimana upaya dan proses penyelesaiannya sehingga ketika berbicara mengenai efektifitas Dana Alokasi Desa, alurnya dapat dilihat dengan lebih terstruktur atau lebih jelas.

Sementara itu Dr. H. Jamaludin, MA yang juga Sekretaris DRD Prov NTB menyinggung pembahasan yang terkait dengan Potensi Pengembangan Ekonomi Pesantren. Dimana menurutnya diperlukan pemikiran-pemikiran yang bersifat inovatif untuk dapat menangkap potensi pengembangan ekonomi pesantren. Salah satunya dengan jeli melihat pemenuhan berbagai kebutuhan santri yang dapat dikapitalisasi sehingga dari situ akan muncul peluang usaha yang dapat menghasilkan keuntungan dalam jumlah besar, mengingat dalam satu pesantren jumlah santrinya cukup banyak.