WORKSHOP DAN FGD PEMBANGUNAN TECHNO PARK BANYUMULEK

By | April 23, 2015

Sejak tanggal 22 hingga 23 April 2015, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Barat telah mengadakan Workshop dan FGD (Focus Group Discussion) tentang Pembangunan Techno Park (TP) yang berlokasi di Banyumulek Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Dalam sambutan pembukaannya Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, mengutarakan bahwa tujuan dari pembangunan Techno Park ini adalah untuk membuat link yang permanen antara perguruan tinggi (akademisi), pelaku bisnis, dan pemerintah. Sehingga dengan adanya Techno Park ini dapat terjadi clustering dan critical mass dari peneliti dan perusahaan, yang dapat membuat perusahaan menjadi lebih kuat.

Lebih jauh Iskandar Zulkarnain mengutarakan bahwa ada 3 aktor yang berperan dalam implementasi techno park ini yang disingkat ABG, yaitu Akademisi, Bisnis dan Pemerintah (Government). Adapun konsep techno park atau kawasan berbasis teknologi ini adalah kawasan berdimensi pembangunan ekonomi dengan sentra ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang mendukung percepatan inovasi. Pengembangan kawasan berbasis teknologi ini diandalkan sebagai motor penggerak pengembangan wilayah. Kawasan berbasis teknologi diharapkan mampu menjadi pusat dan pendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan di sekitarnya serta mampu bersaing di dalam dan luar negeri. Kemampuan bersaing ini lahir melalui pengembangan produk unggulan yang kompetitif di pasar domestik maupun global, yang didukung sumber daya manusia (SDM) unggul, riset dan teknologi, informasi, serta keunggulan pemasaran. Pemerintah perlu mendorong dan mendukung penciptaan dan penguatan kawasan berbasis teknologi di daerah-daerah yang berbasis kepada produk unggulan daerah masing-masing. Dan untuk menjadi catatan penting juga Kepala LIPI menghimbau kepada Pemerintah Daerah agar memperhatikan sejumlah hal yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat yaitu : 1. Dalam persoalaan lahan pemda harus menyiapkan lahan untuk Techno Park yang Clean dan Clear agar tidak ada masalah apapun di kemudian hari, 2. Memperhatikan aspek berkelnajutan bagi Lahan Techno Park itu sendiri, 3. Harus menggunakan teknologi yang bias menjawab kebutuhan masyarakat secara riil, 4. Harus berorientasi pada teknologi yang green (ramah lingkungan) yang tidak menghasilkan limbah, dan kalaupun ada efek hasil limbah yaitu limbah yang bias diolah dan menghasilkan manfaat, 5. Harus menimbulkan usaha-usaha baru yang membuat pertumbuhan ekonomi meningkat.

Selain itu Gubernur NTB yang diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Drs. H.L. Gita Aryadi, M.Si. juga mengutarakan bahwa Provinsi NTB sejauh ini sudah melakukan upaya pengembangan kawasan Banyumulek tersebut sebagai kawasan Agroeduwisata, mengingat sudah banyak orang yang berkunjung ke kawasan tersebut bukan hanya untuk gerabahnya semata, namun juga untuk usaha peternakan dan industri pertanian lainnya yang ada di Banyumulek. Kawasan  Banyumulek sebagai agroeduwisata akan bersinergi dengan Techno Park agar tidak ada duplikasi Program/Kegiatan baik itu di daerah maupun Pusat. Dengan demikian melalui Workshop ini diharapkan menghasilkan arah kebijakan Tecno Park yang berfungsi sebagai pusat penerapan teknologi di bidang pertanian, peternakan dan pengolahan hasil (pasca panen) yang telah dikaji oleh lembaga penelitian, swasta, perguruan tinggi untuk diterapkan dalam skala ekonomi yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat.