SEKILAS IPM

By | June 16, 2013

IPM adalah indikator penting  untuk mengetahui keberhasilan dalam upaya mem- bangun kualitas hidup manusia/ masyarakat/penduduk yang dipublikasikan secara berkala oleh BPS, dan IPM merupakan indikator dampak dari program 5-10 tahun sebelumnya.

Sejak pertama kali dipublikasikan oleh BPS rangking IPM-NTB nomor 26 dari 27 provinsi yaitu pada tahun 1996-1999

dengan nilai masing-masing 56,7 dan 54,2. Tahun 2002 menempati urutan 30 dari 30 provinsi dengan nilai 57,8 dan sejak tahun 2005 sampai 2011 selalu di posisi 32 dengan nilai 62,42 (2005), 63,04 (2006), 63,71 (2007), 64,12 (2008), 64,66 (2009), 65,2 (2010), dan terakhir tahun 2011 dengan nilai IPM 66,23.

Bila dilihat dari ranking, posisi IPM NTB memang tidak mengalami perubahan walaupun capaian nilainya selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan karena provinsi lainnya pada hakekatnya juga berupaya untuk meningkatkan nilai IPMnya. Dan untuk memenuhi ini setiap provinsi berupaya mengerahkan seluruh sumber daya (terutama anggaran) yang dimilikinya.

Mengingat Provinsi NTB adalah salah satu provinsi yang memiliki kapasitas fiskal yang tidak kuat, maka provinsi ini harus meningkatkan efektifitas dan efisiensi anggaran yang dimilikinya. Sejak 3 tahun terakhir Provinsi NTB berupaya untuk mempercepat peningkatan nilai IPMnya. Dalam jangka waktu 3 tahun terakhir (2009-2011), percepatan peningkatan IPM-NTB sebesar 2,79% yang menempatkan Provinsi NTB menempati urutan ke-6 secara nasional dari percepatan pembangunan IPM di Indonesia.

Untuk mengukur IPM dipilih tiap aspek pembangunan manusia yang paling mendasar yaitu umur panjang dan sehat (usia harapan hidup), pengetahuan (lama sekolah dan melek huruf) dan standar  hidup  layak (paritas daya beli).

  1. Usia harapan hidup diukur berdasarkan angka harapan hidup waktu lahir yang didefinisikan sebagai perkiraan kemampuan rata-rata banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang untuk hidup terhitung sejak dilahirkan dengan demikian usia harapan hidup juga dipengaruhi oleh tingkat kematian bayi. Dengan adanya program pembangunan berbagai bidang seperti sanitasi, perumahan, penyediaan air bersih dan peningkatan gizi diyakini akan mengurangi angka kematian bayi yang pada akhirnya dapat meningkatkan usia harapan hidup.
  2. Pengetahuan diukur dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.
    1. Angka melek huruf berdasarkan program yang telah dibelajarkan akan mencapai 100% pada tahun 2013 dan pada tahun 2011 angka melek huruf mencapai 97,95%, namun demikian data yang direlease BPS dalam menghitung IPM angka melek huruf adalah 83,24%. Untuk itu perlu dilakukan sinkronisasi  metode penghitungan angka melek huruf yang dilakukan oleh BPS dan Dinas/Instansi terkait, angka melek huruf dihitung dari penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis dengan huruf latin.
    2. Rata-rata lama sekolah adalah jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk berusia 15 tahun keatas dalam menjalani pendidikan formal. Variabel yang menentukan rata-rata lama sekolah adalah angka partisipasi sekolah (APK dan APM). Berdasarkan indikator yang ada,  dimana angka partisipasi sekolah dan melanjutkan sekolah dari tingkat SD sampai SMA menunjukkan peningkatan yang baik dan diprediksi dengan program bidang pendidikan yang ada angka rata-rata lama sekolah dapat mencapai target yang dharapkan. Variabel yang menentukan rata-rata lama sekolah adalah angka putus/melanjutkan sekolah dan angka partisipasi sekolah seperti APM/APK pada masing-masing tingkat pendidikan.
  3. Paritas Daya Beli diukur dari kemam- puan individu untuk  memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk dapat hidup secara layak. Saat ini (Tahun 2011) Paritas daya beli NTB 642,800 diatas angka rata-rata nasional sebesar 638,050.

Tiga dari empat komponen dalam menghitung IPM yang perlu mendapat perhatian khusus adalah rata-rata lama sekolah, usia harapan hidup dan paritas daya beli. Dilain pihak dengan program unggulan yang merupakan pendukung dari komponen tersebut realisasinya mencapai target yang telah ditetapkan dalam RPJMD dan didukung pula oleh program Nasional (RPJMN) dimana target rata-rata IPM daerah tertinggal 72,2 pada tahun 2014dengan demikian peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di NTB optimis akan mencapai target yang diharapkan.