RINJANI TUAN RUMAH 6TH SYMPOSIUM APGN 2019

WhatsApp Image 2017-09-22 at 19.11.33

MATARAM-Sinyal kuat Rinjani bakal menjadi Geopark Dunia atau UNESCO Global Geopark datang dari Tiongkok. Ini setelah Geopark Rinjani ditunjuk sebagai tuan rumah 6th Symposium Asia Pasific Geopark Networks (APGN) tahun 2019. Dalam sejarahnya, tuan rumah Symposium APGN selalu di tempat yang telah ditetapkan sebagai Geopark Dunia oleh UNESCO.
Penetapan Rinjani sebagai tuan rumah 6th APGN Symposium diumumkan dalam perhelatan The 5th Asia Pacific Geopark Network di Zhijindong Cave Global Geopark, Zhijindong, Guizhou Tiongkok, kemarin (22/9) waktu setempat.
Delegasi Geopark Rinjani secara khusus hadir dalam perhelatan tersebut dipimpin Sekretaris Daerah NTB H Rosiady Sayuti. Antara lain turut menyertai Kepala Bappeda NTB H Ridwan Syah, Asisten II Pemprov NTB yang juga General Manajer Geopark Rinjani H Chairul Mahsul, Kadis Dikbud NTB H Muhammad Suruji, Kadis Kehutanan dan LHK NTB Madani Mukarom dan Kepala Dinas Pariwisata NTB HL Mohammad Faozal.

Secara khusus, Sekda NTB didaulat ke panggung utama untuk menerima bendera tuan rumah 6th Symposium APGN 2019 dari koordinator APGN dengan disaksikan 750 delegasi dari 127 negara seluruh dunia.
HL Mohammad Faozal yang dihubungi Lombok Post melalui sambungan telepon tadi malam membenarkan sinyal kuat penetapan Rinjani sebagai Geopark Dunia tersebut. Namun, Pemprov NTB kata Foazal tak ingin berspekulasi terlalu jauh. Mengingat penetapan Rinjani sebagai Geopark Dunia adalah domain penuh UNESCO.
“Itu sinyal kuat. Dan kita bersyukur atas penunjukan sebagai tuan rumah Symposium APGN tahun 2019. Tapi, domain penetapan Rinjani sebagai Geopark Dunia sepenuhnya ada di tangan UNESCO,” kata Faozal.
Ridwan Syah, yang dihubungi terpisah Lombok Post melalui sambungan telepon juga mengungkapkan hal yang sama. “Sebaiknya jangan mendahului keputusan resmi UNESCO. Sah-sah saja saya dan siapapun akan menafsirkan seperti itu (sinyal kuat). Karena semua persyaratan sudah kita penuhi,” kata Ridwan.
Saat ini posisi Pemprov NTB kata dia memang tinggal menunggu keputusan. Secara resmi, UNESCO akan mengumumkan status Rinjani sebagai Geopark Dunia diagendakan pada April 2018. Informasi yang didapat Lombok Post, pengumuman resmi itu akan digelar dalam Sidang Global Geopark UNESCO di Italia.
Ridwan Syah menambahkan, dalam The 5th Asia Pacific Geopark Network di Zhijindong Cave Global Geopark, yang ditunjuk sebagai tuan rumah adalah Indonesia. Kemudian, Kemenko Maritim yang mewakili pemerintah Indonesia dalam perhelatan tersebut menetapkan Rinjani sebagai tuan rumah. Tahun depan, Indonesia memang berkepentingan dengan penetapan Rinjani sebagai Geopark Dunia. Sebagai pendamping Rinjani diajukan Geopark Ciletuh di Jawa Barat.
Melalui keterangan tertulis, Sekda NTB menginformasikan bahwa dalam pertemuan Symposium di Guizhou, Tiongkok tersebut, Pemprov NTB memang ikut ambil bagian secara aktif pada event internasional ini.
The 5th APGN digelar dengan mengangkat tema UNESCO Global Geoparks Contribute to the Sustainable Development of Local Economy. Diikuti 750 orang peserta dari 127 negara. Acara ini diisi seminar dengan bahasan “Empowering Local Social Economic Sustainable Development”, “Communicating Geoparks, Geosite and Geotourism”, “Popularizing Scientific Knowledge for Public Education”, “Promoting Aspiring of Global Geopark”, dan “Networking Karst Landscape Global Geoparks”.
Sebelumnya, General Manajer Geopark Rinjani Chairul Mahsul menjelaskan, bulan Maret tahun 2017, dari 18 geopark yang diajukan tahun 2016, beberapa di antaranya langsung diterima sebagai geopark dunia. Tapi ada yang ditunda dengan catatan, dan dua geopark ditolak sehingga dianggap gugur.
Geopark Rinjani sendiri statusnya ditunda, bersama enam geopark lain dari berbagai negara. Rinjani diberi waktu paling lama dua tahun untuk memperbaiki semua catatan. Ia menyebutkan ada 10 catatan yang diberikan UNESCO untuk Geopark Rinjani Lombok. Paling utama adalah Pemprov NTB diminta menjelaskan persamaan dan perbedaan Geopark Rinjani dan Geopark Gunung Batur di Bali.
Khususnya tentang muatan-muatan geologi kedua geopark tersebut. Poin ini sangat penting karena karakter dua geopark ini mirip dan berdekatan. Sementara catatan lainnya lebih bersifat jangka panjang dan saran perbaikan. Misalnya, memperluasnya deliniasi se-Pulau Lombok.
Padahal dulu konsep kedua Pemprov NTB mengusulkan se-pulau Lombok tapi ditolak. Saat itu diminta mempersempit cakupan wilayah, tapi saat ini UNESCO sebaliknya.
Seluruh catatan itu kemudian dilengkapi Pemprov NTB dan kemudian diserahkan ke UNESCO pada Agustus 2017. Sebagian catatan bahkan telah dilengkapi pada Juni 2017. Seperti perbandingan muatan geologi antara Geopark Rinjani dengan Global Geopark Gunung Batur. Sehingga saat ini, Pemprov NTB tinggal menunggu penetapan UNESCO atas Geopark Rinjani.
Salah satu keunggulan Rinjani adalah di sana banyak batu apung. Itu merupakan warisan geologi. Selain itu sebaran warisan geologi Rinjani juga lebih luas, lintas kabupaten, sampai Batu Bolong, bahkan hingga Gili Trawangan.
Di sisi lain, pengelola geopark Rinjani diminta bekerja sama dengan perguruan tinggi di lembaga-lembaga riset, memerankan gender. Dan Rinjani sudah memiliki dewan pelaksana harian seorang perempuan yang merupakan ahli geologi.
Juga ada para perempuan sebagai pelaksana di bawah seperti guide. Sebab mereka ingin agar peran perempuan lebih diintensifkan. “Juga diminta perbanyak sosialisasi di sekolah-sekolah dan bekerja sama dengan geopark lain, baik lokal, nasional dan internasional,” ujarnya.
Geopark Rinjani Lombok sendiri resmi terdaftar sebagai salah satu aplicant UNESCO GGN 2016 bersama dengan 18 geopark lainnya dari 13 negara. Tahun 2016, Indonesia hanya fokus mengajukan Rinjani. Menunda pengajuan Geopark Merangin di Jambi dan Geopark Danau Toba. Sebelumnya, dua Geopark terkahir memang ditolak pada sidang UNESCO Global Geopark yang berlangsung di Tokyo, Jepang tahun 2015. (kus/r8)