Pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) dan Review Kepengurusan Komda SDG Provinsi NTB

index

Mataram. Senin, 11 Maret 2019, Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi NTB melalui Bidang Litbang Bappeda Provinsi NTB melakukan FGD dengan tema “Pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) dan review Kepengurusan Komda SDG Provinsi NTB”.  Rapat tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Lakey Bappeda dan dihadiri oleh Narasumber pusat, Kepala Bidang Pelayanan Perlindungan Varietas Tanaman “Ir. Ewin Suib, MM” dan Ketua Kelompok Peneliti Pengelolaan Sumber Daya Genetik “Dr. Dodin Koswanudin, M.Si”.

Rapat dibuka oleh Sekretaris Bappeda Provinsi NTB – Drs. Sigit Catur Prasetya, SE. Sigit sangat mengapresiasi kegiatan ini, menurutnya, Sumber Daya Genetik (SDG) sangat penting dalam memenuhi kebutuhan pangan, sehingga keragaman genetic lokal di NTB perlu dikembangkan serta dilestarikan dengan baik. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTB dalam mendukung pemanfaatan dan perlindungan SDG, salah satunya adalah dengan menjalin kemitraan dengan Perguruan Tinggi maupun Lembaga Penelitian di NTB. Selain itu, menurutnya, Pengembangan SDG ini sejalan dengan misi Gubernur pada poin ke-4 yaitu NTB Asri dan lestari.

sa   s

Ir. Ewin Suib, MM selaku Kepala Bidang Pelayanan Perlindungan Varietas Tanaman pada Pusat Perlndungan Vareitas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) , memaparkan Urgensi Pendaftaran/Pelepasan Untuk Perlindungan Dan Pelestarian Varietas Tanaman Lokal. Dalam paparannya, Erwin menjelaskan prosedur pendaftaran varietas dan SDG tanaman yang dapat dilakukan dengan mengajukan permohonan ke Gubernur/Bupati/Walikota lalu verifikasi dokumen selama 30 hari kerja, jika lengkap akan dikeluarkan tanda daftar. Jika tidak lengkap akan dikembalikan ke pemohon.

Menurut Erwin, sudah terdapat 67 varietas lokal Provinsi Nusa Tenggara Barat yang sudah didaftarkan, diantaranya adalah Kacang Tanah Bima,  Duriansi Gundul khas Lombok Barat, Sawo Plampang khas Sumbawa Barat, Leci Putri Mandalika, dan beberapa vareitas lainnya yang tersebar di seluruh kabupaten Kota di NTB.

Ir. M.Sofyan Souri (KTU BPTP NTB) menambahkan bahwa, varietas lokal di NTB sangat perlu didaftarkan guna mendapatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Salah satu varietas lokal NTB yang tidak terdapat di tempat lain adalah Paok darekande, yang sampai saat ini belum didaftarkan.

Paparan lainnya berasal dari Ir. Dodin Koswanudin, M.Si yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Peneliti Pengelolaan Sumber Daya Genetik memberikan materi terkait Keberadaan Komnas SDG dalam Pelestarian Sumberdaya Genetik. Dijelaskan bahwa Kelembagaan Komisi Daerah (Komda) SDG sudah tersebar di dua puluh empat (24) Provinsi dan 5 Kabupaten Kota, salah satunya adalah di Provinsi NTB.

Pada paparannya, Dodin menjelaskan kriteria pelestari SDG tanaman pertanian harus memenuhi 4 syarat yaitu Merawat sekurang-kurangnya 3 spesies atau 5 varietas tanaman pertanian yang memenuhi kriteria, memanfaatkan untuk kebutuhan sendiri atau komunitasnya dan menyebarluaskan kepada masyarakat, memiliki Kepedulian terhadap pelestarian SDG karena kesadaran tentang pentingnya SDG bagi generasi berikutnya dan atau karena motivasi ekonomi, kesenangan (hobi), keyakinan agama atau budaya/tradisi, memiliki pengetahuan tentang SDG dan mendapat pengakuan dari sekurang-kurangnya 3 tokoh masyarakat.

Selain narasumber pusat, paparan lainnya berasal dari Salah satu Peneliti BPTP NTB, Fitrahtunnisa, S.Pd, M.Si. Fitrah memaparkan tema terkait Peran BPTP Dalam Pelestarian Varietas Tanaman Lokal. Menurutnya, masih banyak varietas tanaman  yang belum termanfaatkan dalam upaya Pemuliaan tanaman.

Dijelaskan bahwa Peran BPTP Dalam Pelestarian Varietas Tanaman Lokal diantaranya adalah Melakukan inventarisasi, karakterisasi, koleksi dan Rejunevasi, Membantu pendaftaran SDG Lokal Potensial, Menyediakan materi SDG Lokal untuk konservasi di bank Gen, Menginisiasi pembentukan Komda SDG, Membuat peta sebaran SDG Langka dll. Menurtunya, kepengurusan Komda SDG NTB yang sudah terbentuk sejak tahun 2013 hanya terlihat aktif hingga tahun 2016. Namun, hingga saat ini kepengurusan NTB sudah mulai vakum.

Meanggapi hal tersebut, Moderator rapat, Ir. M.Sofyan Souri berharap agar Bidang Litbang dapat menganggarkan operasional komda SDG untuk menyusun kegiatan SDG NTB sehingga secara tidak langsung, masyarakat dapat memperoleh nilai ekonomi dari varietas unggulan yang ada di NTB.

Widi salah satu peserta rapat dari Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi NTB memberikan masukan agar Sorgum merah segera didaftarkan. Menurutnya, sorgum dapat menjadi varetas local dan menjadi ikon daerah NTB. (Litbang)