BAPPEDA – DRD DALAMI POTENSI PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK MENJADI BBM

DSC06335

Mataram – Senin 21 Mei 2018, Bidang Litbang Bappeda bersama dengan Dewan Riset Daerah NTB, mengadakan rapat rutin bertempat di ruang Samota kantor Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Barat. Rapat ini membahas potensi pengolahan sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Rapat ini mengundang narasumber dari Penggiat Lembaga Pengembangan Studi (Lepitek) NTB yang merupakan pihak inisiator metode pengolahan sampah plastik menjadi BBM. Selain itu, beberapa stakeholder terkaitjuga hadir dalam rapat ini, diantaranya, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, Dinas Kesehatan NTB, dan perakilan dari bidang-bidang lainnya di dalam ruang lingkup Bappeda Provinsi NTB.

Rapat ini dibuka oleh Kabid Litbang Retno Untari, S.Si, M.Kes, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan atau pengantar dari Kepala Bappeda Prov NTB Ir. Ridwan Syah, MSc, MM, MTP. Dalam sambutannya Ridwan Syah menekankan bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB perlu dilakukan terobosan-terobosan dan inovasi yang dapat memberikan kontribusi langsung atau nyata terhadap pengembangan ekonomi daerah. Beliau menyebutkan, pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini salah satu yang menarik perhatiannya disamping beberapa terobosan-terobosan lainnya yang sedang didalami oleh Litbang Bappeda bersama dengan DRD.

Menurut Ridwan Syah, masalah persampahan ini merupakan masalah klasik yang dihadapi di berbagai tempat khususnya di Nusa Tenggara Barat. Bahkan permasalahan sampah ini menjadi salah satu penghalang utama bagi pengembangan sektor strategis pariwisata. Banyak destinasi wisata bermasalah dengan pengelolaan sampah, sehingga mengakibatkan berkurangnya jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi-destinasi tersebut. Salah satunya yang menjadi sorotan adalah kawasan Gunung Rinjani dimana sepanjang jalur pendakian kerap kali ditemukan sampah-sampah yang bertebaran sehungga mengundang komentar miring dari para pengunjung.

Untuk itu, potensi pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini, harus dapat menjadi perhatian serius, dikarenakan potensi yang dimiliki. Disamping dapat diharapkan menjadi exit pointbagi permasalahan sampah di daerah, secara ekonomis pengolahaan ini dapat memberikan nilai tambah berupa pendapatan dari hasil pengolahan sampah tersebut.

Rapat kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Tim Lepitek NTB yang menjelaskan secara teknis mengenai proses konversi sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM).  Menurut Ketua Lepitek NTB Lalu Rujita, proses pengolahan sampah dilakukan dengan menggunakan alat destilasi yang dibuat oleh Tim Lepitek. Alat yang dimaksud dapat menampung sekitar 5 kilogram sampah persekali proses dan menghasilkan sekitar 5 liter bahan bakar berupa solar atau bahan bakar yang kualitasnya sedikit dibawah premium. Mengenai kualitas bahan bakar, Lalu Rujita menjelaskan bahwa potensinya masih dapat ditingkatkan bahkan sampai menjadi avtur, bahan bakar pesawat terbang dengan meningkatkan kualitas alat destilasinya.

Menurut Lalu Rujita, Tim Lepitek NTB masih memiliki keterbatasan dalam mengembangkan alat destilisasi yang dimiliki terutama terkait dengan masalah dana untuk meningkatkan kualitas dan memperbanyak alat yang dimiliki. Alat yang sudah sekitar 3 bulan dikembangkan ini dapat disebar ke desa-desa atau kecamatan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengatasi masalah sampah secara spasial di daerah masing-masing terutama pada kawasan destinasi wisata. Penggunaan alat ini nantinya juga akan memberikan penghasilan kepada masyarakat, karena menurut perhitungan yang dilakukan oleh Tim Lepitek, terdapat marjin keuntungan yang cukup menjanjikan dari proses pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini.

Untuk itu, Lepitek NTB mengharapkan Pemerintah Daerah Provinsi NTB melalui Bappeda dapat bersama-sama mengembangkan apa yang telah menjadi temuan Tim Lepitek ini dan dapat memberikan bantuan berupa tambahan modal maupun pendampingan sehingga potensi yang dijanjikan dari pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini dapat dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin. Rapat kemudian ditutup dengan demo alat destilasi tersebut yang dilakukan di depan kantor Bappeda Provinsi NTB disaksikan oleh seluruh peserta rapat.

DSC06338DSC06333DSC06344